| 1. H. Anwar Fuady, hanura, sumsel1, no2 |
2. A. Sondakh, P Demokrat, JaTeng VI,no1 |
3. Eko Patrio, PAN, JaTim VIII, no1 |
4. Ikang Fauzi, PAN, Banten I, no1 |
5. Denada, PPP, Jatim V, no2 |
 |
 |
 |
 |
 |
| 6. Derry Drajat, PAN, JaBar II, no3 |
7. Dwi Yanus, P Patriot, SumSel II, no2 |
8. Andrian Maulana, PAN, SumBar II, no3 |
9. Venna Melinda, P Demokrat, JaTim VI, no3 |
10. Marissa Haque, PPP, JaBar I, no2 |
 |
 |
 |
 |
 |
| 11. Gusti Randa SH, Hanura, SumBar II, no3 |
12. Evi Tamala, PPP, JaBar X, no4 |
13. Bangkit Sanjaya, Golkar, Jabar I, no 7 |
14. H. Mandra Y. S, PAN, DKI Jakarta I, no3 |
15. Tito Sumarsono, PAN, Jabar VII, no2 |
 |
 |
 |
 |
 |
| 16. Imam G Manik, PMB, Jabar VII, no1 |
17. Tere, P.Demokrat, Jabar II, no1 |
18. Henidar Amru, PAN, DKI Jakarta I, no3 |
19. Andreas Taulany, PDK, Jatim II, no1 |
20. Ana Tairas, Gerindra, Jabar I, no 2 |
 |
 |
 |
 |
 |
| 21. Ronny Waluya, Hanura, Jatim VII, no2 |
22. Irene Librawati, Pan, Lampung II, no4 |
23. Hendra Cipta, P.R.Nusantara, Jabar VII, no1 |
24. Cahyono, PAN, Jatim III, no1 |
25. Emilia Contessa, PPP, JatimII, no5 |
 |
|
 |
 |
 |
| 26. Jane Shalimar, P.Demokrat, BantenI, no6 |
27. Adji Massaid, P.Demokrat, jatimII,no1 |
28. Maylaffazza Wiguna, PAN, Banten II, no3 |
29. Nurul Komar, P.Demokrat, Jabar VIII, no1 |
30, Mutiara Sani, Hanura, Kal Bar, no1 |
 |
 |
 |
 |
 |
| 31. Jeremy Thomas, Golkar, Riau I,no3 |
32. Ita Mustafa, PAN, Sumsel I, no.4 |
33. Nurul Arifin, GOLKAR, JAbar VII, no 1 |
34. Mara Karma, PAN, Riau II, no2 |
35. Jamal Mirdad, Gerindra, JaTeng I, no.1 |
 |
 |
 |
|
 |
| 36. Rachel Maryam, Gerindra, Jabar II, no 1 |
37. Raslina Rasidin, PAN, DKI Jakarta II, no 1 |
38. Erna Santoso, PDK, Jatim IV, no 1 |
39. Tantowi Yahya, Golkar, SumSel II, no1 |
40. Ruhut Sitompul SH, P.Demokrat, SumUt II, no2 |
 |
 |
 |
 |
 |
| 41.Okky Asokawati, PPP, DKI Jakarta II, no2 |
42. Edo Kondologit, PDIP, Papua Barat, no1 |
43. Inggrid Kansil, P.Demokrat, Jabar VI, no 3 |
44. Dedi Gumelar, PDIP, Banten I, no1 |
45. Rico Tampatty, P. Patriot, DKI Jakarta III, no 1 |
 |
 |
 |
 |
 |
| 46. Rieke Diah Pitaloka, PDIP, Jabar II, no 2 |
47. Ricky Johanes, PDS, Jateng I, no2 |
48. Marini K.S, Pan, JAbar V, no 2 |
49. Ratih Sanggarwati, PPP, Jatim, no 1 |
50. Rahman Yacob, PPP, Lampung I, no1 |
 |
 |
 |
 |
|
| 51. Leily Sagita, PPPI, Sumbar II, no1 |
52. Poppy Maretha, PAN, Lampung I, no 6 |
53. Eka Sapta, PAN, Riau II, no5 |
54. Tamara. G, PDS, Jateng V, No1 |
55. Steve Imanuel, Gerindra, Sul Sel I, no3 |
|
 |
|
 |
 |
| 56. Wieke Widowati, Hanura, Sumsel II, no 3 |
57. Wulan Guritno, PAN, Jateng III, no1 |
58. Tengku Firmansyah, PKB, Jabar I, no1 |
59. HJ, Tetty Kadi, Golkar, Jabar VIII, no 2 |
60. Sony Tulung, PDIP, Sultra, no 1 |
|
 |
 |
 |
 |
| 61. Primus Yustisio, PAN, Jabar IX, no8 |
 |
suatu saat negeri ini akan diatur artis kalee…
Comment oleh Singal — Oktober 29, 2008 @ 21:00 |
artinya partai politik memang tak siap melaju. Akibat itu terpaksalah ambil langkah cepat. Peluk saja artis yang memang sudah punya intagible asset yaitu TERKENAL. Bukankah pilih memilih itu adalah masalah dikenal atau tidak? Tapi tak lantas juga mengecilkan maksud artis menjadi wakil rakyat. Yang penting mah amanah, siapapun itu yang maju. Mau artis, mau ga…. kita yang milih kan???
Comment oleh bangirfan — Oktober 29, 2008 @ 22:20 |
aturan pemilu yang mengharuskan partai mempunyai suara minimal sekian persen membuat partai peserta pemilu terjebak pada situasi yang rumit.
membangun massa partai dibutuhkan waktu yang tidak sebentar. mungkin 2 atau 3 periode pemilu untuk bisa mempunyai basis massa yang kuat.
sementara jika dalam 1 periode tidak berhasil menggaet massa pemilih sesuai syarat minimal, partai tsb tidak bisa mengikuti pemilu periode berikutnya.
akhirnya, bermodal jiwa bisnis temporer, mana yang saat ini sedang in, yang bisa mendongkrak suara partai, itu yang dilakukan, supaya masih bisa eksis sampai pemilu ke depan.
kenapa artis, jawabnya seperti komen bangirfan di atas.
secara umum ini adalah gambaran dari mentalitas negeri ini yang menginginkan segala sesuatunya secara instan.
Comment oleh wisnoe — Oktober 30, 2008 @ 2:27 |
Manusia Sebenarnya Sedang Tidur
oleh: Marissa Haque Fawzi
December 4th, 2008
Dalam sebuah perenungan panjang, tatkala kutatap lalu lalang manusia yang menyemut dalam sebuah perjalanan panjang Bintaro ke Jakarta Pusat, terbayang wajah-wajah banyak manusia melangkah dengan mata terpejam. Ah, mereka sedang tidur!
Annemarie Schimmel, seorang wanita keras hati namun halus budi yang dititipi Allah kecerdasan diatas rata-rata dengan kemampuan verbal yang sangat lancar, adalah salah seorang role model ku didunia Sufisme/Tasawuf. Dalam salah satu buku tulisannya yang berjudul Jiwaku adalah Wanita, didalam paragraf pembukanya diceritakan sebuah kisah tentang seorang guru India yang sedang berkunjung ke Damaskus, Syria. Buku yang diceritakan tersebut adalah sebuah buku tua terbitan 1872 dengan judul Padmanaba dan Hasan.
Disana sang guru India tersebut memperkenalkan awal langkah misteri kehidupan spiritual kepada seorang anak laki_laki yang bernama Hasan yang membawanya kesebuah ruang bawah tanah. Ada sebuah keranda yang berdampingan dengan bekas singgasana Raja teronggok, dikelilingi sekumpulan harta benda ratna mutu manikam yang tak ternilai. Pada keranda tersebut terpatri kata-kata “…sebenarnya manusia itu semua sedang tidur, ketika mereka meninggal dunia, pada saat itulah mereka sebenarnya terbangun.” Schimmel kemudian baru menyadari belakangan bahwa ternyata sepenggal kata-kata yang terpatri tersebut adalah hadis Rasulullah Muhammad yang amat disukai dikalangan para Sufi dan penyair dunia Islam.
Didalam konteks posisiku sebagai anggota DPR terpilih periode 2004-2009 melalui partai Politik PDI Perjuangan, aku merasakan sepotong tulisan yang saya kutip diatas dari buku Annemarie Schimmel, adalah sebuah metafora pula dari penggalan lain langkah kehidupanku dalam kaitan dengan dunia politik. Betapa kehidupan singkat manusia ini hanyalah sepenggal mimpi pendek bunga tidur yang akan menentukan sebuah kehidupan abadi lainnya setelah alam dunia ini. Betapa sesungguhnya mimpi pendek ini sangat silau dengan tipu daya yang menjerumuskan. Alangkah kita nantinya akan menyesali ayunan langkah kehidupan yang telah kita lakukan, saat kita menyadari bahwa dikala mati kelak tidak satupun harta dunia akan terbawa.
Menjadi seorang anggota DPR, merupakan amanah sekaligus ujian dan jebakan yang nyata, yang akan menguji apakah dipenghujung langkah hidupku kelak aku layak menjadi kekasih Allah dan sahabat Rasulullah. Dimana kebutuhan transendental merupakan intrinsik atau innate property yang membuat setiap manusia itu cinta Illahi—apapun agama yang dipeluknya—dan ingin bersatu dengan Nya dikehidupan abadi kelak. Saat itu adalah saat dimana manusia sudah benar-benar bangun dari tidurnya. Namun sekarang masalahnya. Apakah manusia mengetahui bahwa sebenarnya mereka itu sedang tidur pada saat mereka sedang melakukan aktifitas kesehariannya? Wallahualam bisawab.
Semoga Allah SWT membimbing pada jalan keselamatan didunia dan di akhirat, dan mengumpulkan kita semua kelak didalam tempat yang sejuk serta penuh dengan cahaya cinta kasih abadi.
{ Sumber Tulisan : http://www.marissahaque.com Jakarta, 12 Juli, 2004 Oleh Marissa Haque Fawzi, Untuk Majalah Noor edisi September 2004 }
Comment oleh clara wresti — Desember 9, 2008 @ 3:31 |
My Coment:
Sebenarnya sih sah-sah saja ARTIS atau siapapun mencalonkan diri dari CALEG, tapi dimata saya sebagaimana yang terjadi di Indonesia ini fenomena banyaknya ARTIS jadi CALEG adalah : 1. Hanya sebuah EUFORIA KEBEBASAN DEMOKRASI dalam BERPOLITIK yang masih belajar. 2.Menunjukan bahwa PARTAI tidak memiliki KADERISASI yang SYSTEMIK untuk bisa menghasil calon-calon pemimpin bangsa yang tangguh. Mereka hanya mengejar POPULARITAS untuk mengangkat suara. 3.Saya tidak melihat kapasitas & Kompetensi yang memadai dari setiap CALEG ARTIS kecuali hanya beberapa orang. 4.Silahkan anda (para ARTIS) membantah dan berdalih dengan berbagai gaya dan argumen yang seolah-olah anda berkapasitas bahkan berdalih ikhlas dengan mengutip bahasa agama dan bla bla bla tapi silahkan JAWAB DENGAN HATI NURANI YANG PALING DALAM bahkan kalau mungkin sambil kontemplasi yang fokus penuh keikhlsan, UNTUK APAKAH SESUNGGUHNYA PARTISIPASI JADI CALEG, BENARKAH SEBAGAIMANA YANG DIUNGKAPKAN DALAM BERBABAGAI ARGUMENTASI. Saya hanya meyakini bahwa APA YANG BERASAL DARI HATI AKAN TEMBUS KE HATI. Dan bagi saya bahkan mungkin bagi kebanyakan orang, tidak merasakan itu kecuali menambah lucu, nambah heran dan nambah khawatir. 5.Saya hanya berharap agar INDONESIA dikelola dan dipimpin oleh orang-orang yang tidak saja memiliki popularitas tapi juga memiliki kapasitas dan kompetensi yang dilandasi oleh dasar KEIMANAN KUAT kepada sang kholiq sehingga hadir dalam dirinya KEIKHLASAN dan AMANAH yang benar sehingga yang ada dalam benak pikirannya adalah bagaimana memberikan manfaat bagi seluruh warga bangsa
Comment oleh Sameone — Desember 25, 2008 @ 12:21 |
inilah salah satu pemicu semakin hancurnya negeri tercinta yg memang sdh amburadul ini karena urusan masyarakat banyak diserahkan kepada orang2 yg kurang tepat dan penuh ambisi hanya untuk mencari status sosial saja…saya jamin pada saat sidang nanti (bila mereka terpilih) di DPR, sebagian besar dari mereka hanya sibuk bertelepon ria dan mengobrol…prediksi ini saya sampaikan berdasarkan pengalaman saya mengikuti pimpinan saya ketika melakukan pembahasan anggaran daerah dgn Panitia Belanja Daerah, Panitia Anggaran DPR-I…dan parahnya lagi banyak anggota Dewan yg bukan berasal dari kalangan artis, sekarang bertingkah pola layaknya seorang artis…
Comment oleh idoenk — Januari 8, 2009 @ 9:14 |
Saya sangat menghormati meraka (artis) yang Nyaleg, tapi mana suara artis dulu yang dah jadi jadi caleg,,,, nyaris tak terdengar…
ini hanya untuk mendobrak suara partai agar banyak suara,,, jadi numpang beken di partai atau partai numpang beken di artis…
moga saja yang jadi caleg benar-benar amanah, amin
Comment oleh eden — Maret 5, 2009 @ 8:09 |
Assalamu alaikum wr. wb.
Saudaraku tersayang,
lihat kenyataan yang ada di sekitar kita!
Uang Dihamburkan…
Rakyat dilenakan…
Pesta DEMOKRASI menguras trilyunan rupiah.
Rakyat diminta menyukseskannya.
Tapi rakyat gigit jari setelahnya.
DEMOKRASI untuk SIAPA?
Ayo temukan jawabannya dengan mengikuti!
Halqah Islam & Peradaban
–mewujudkan rahmat untuk semua–
“Masihkah Berharap pada Demokrasi?”
Tinjauan kritis terhadap Demokratisasi di Dunia Islam
Dengan Pembicara:
Muhammad Rahmat Kurnia (DPP HTI)
KH. Ahmad Fadholi (DPD HTI Soloraya)
yang insyaAllah akan diadakan pada:
Kamis, 26 Maret 2009
08.00 – 12.00 WIB
Gedung Al Irsyad
CP: Humas HTI Soloraya
HM. Sholahudin SE, M.Si.
081802502555
Ikuti juga perkembangan berita aktual lainnya di
hizbut-tahrir.or.id
Semoga Ia senantiasa memberikan petunjuk dan kasih sayangnya kepada kita semua.
Ok, ma kasih atas perhatian dan kerja samanya. (^_^)
Mohon maaf jika ada ucapan yang kurang berkenan. (-_-)
Wassalamu alaikum wr. wb.
Comment oleh dir88gun — Maret 20, 2009 @ 15:21 |
Setiap orang punya keinginan untuk memajukan negeri ini, tak terkecuali para artis. Saya juga banyak kenal dengan pentolan HTI khususnya dalam masalah Palestina. Mereka juga ingin memberikan solusi di tengah memborosnya anggaran negara untuk pesta demokrasi ini. Tapi kita tetap harus optimis dan berprasangka baik terhadap artis-artis yang maju sebagai caleg. Semoga ada perubahan yang lebih baik ke depan.
Comment oleh Mujtahid Hashem — Maret 24, 2009 @ 17:13 |
Buat para Artis harusnya belajar politik yang benar dulu, jangan jadi CALEG kalo cuma ganti profesi ..kasihan rakyat kecil yang masih merasakan penderitaan , dengan adanya pemilu kita berharap ada orang-orang yang akan memberikan perubahan dan meningkatkan perekonomian sehingga memperjuangkan masalah ekonoi kerakyatan dan bukan asal jadi CALEG karena Kepopularitasan artis semata yang hanya menguntungkan individu atau Partai saja.
Comment oleh Gidion — April 4, 2009 @ 12:57 |
Setidaknya artis lbh punya perasaan dan lbh dkt dgn rakyat…setuju2 aj artis jd anggota dpr daripada org yg banyak jd caleg dr rakyat biasa yg pgn jd caleg tp memalsukan ijazah…mending artis ketauan lulu sma semuanya bahkan ad yg udh s2 dan s3…yuuuk
Comment oleh ryan — April 14, 2009 @ 1:25 |
hidup adalah proses pencarian makna. turutilah semua kehendakmu. yang penting lurus-lurus saja
Comment oleh Gareng — April 15, 2009 @ 10:55 |
[...] Data ini diperoleh dari rilis DCS KPU yang kemudian dipilah mana yang artis mana yang bukan dan terpublish di blog ini. Artis yang dimaksud di sini adalah artis sinetron ataupun penyanyi yang biasa atau pernah popular [...]
Ping balik oleh Komentar atas Caleg Artis DPR RI Terpilih « Yasir Alkaf — Mei 17, 2009 @ 16:05 |
hola
Comment oleh salah — Juli 25, 2009 @ 4:17 |