Batik Ternyata Hanya Jago Kandang

Kegundahan. Begitulah perasaan yang acap kali diidap para perajin batik di tengah ingar-bingar pasar batik. Begitu juga saat berlangsung pameran, festival, bazar, atau pasar rakyat, di mana perajin batik ikut terlibat guna mempromosikan produk batiknya.

Di balik setiap pameran batik, terutama yang berlangsung di Jakarta, perajin batik biasanya diajak untuk memasarkan produknya. Pameran bisa berlangsung lima sampai 10 kali dalam setahun. Tiap tahun, nilai transaksi dari pameran dilaporkan melonjak. Kadang nilainya “direkayasa” wajib melonjak. Maklum, ini untuk menunjukkan kesuksesan penyelenggara.

Padahal, kenaikan nilai transaksi yang tak sesuai realitas itu justru mencekik perajin batik. Biaya sewa setiap pameran dibuat mahal. Bisa mencapai Rp 11 juta hingga Rp 15 juta untuk sekadar sewa tempat selama empat hari. Bahkan, biaya sewanya lebih mahal lagi, tergantung dari strategisnya lokasi. batik cirebon, finubatik, http://finubatik.blogspot.comAndaikan dikabarkan pamerannya gratis karena difasilitasi anggaran pemerintah daerah, itu pun sesungguhnya hanya menjadi “permainan” belaka. Semuanya hanya untuk menghabiskan anggaran tanpa ada manfaat langsung kepada perajin batik karena berlangsung di dalam negeri. Padahal, dana tadi sebenarnya bisa digunakan untuk membuat pameran yang lebih bergengsi bagi produk batik, semisal dilakukan di luar negeri.

Penghargaan batik Indonesia sebagai warisan dunia bukan benda, sebagaimana disematkan oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) pada Oktober 2009, seharusnya diikuti dengan upaya besar memperkenalkan batik ke seluruh dunia. Dengan demikian, batik sungguh diakui sebuah warisan budaya milik Indonesia.

Dan ini merupakan sebuah kerinduan besar perajin batik seperti menempatkan produk batik di Harrods Department Store, pusat perbelanjaan terkemuka di London, Inggris. Kalau pemerintah ingin tidak menjadikan perajin jago kandang, sudah saatnya seluruh anggaran pameran di dalam negeri diakumulasikan untuk pameran besar semisal di Eropa.

Ajaklah 500 perajin batik. Fasilitasi mereka yang mengerti batik. Bukan sekadar pedagang batik, apalagi “perajin” yang dekat dengan pejabat pemerintah. Begitulah kerinduan perajin batik. Bukan terus-menerus dijadikan “jago kandang”.

http://kompas.com/
=============================================
Artikel Lain

Motif batik cirebon

7 Presenter Berita Cantik MetroTV

Batik Tulis Mega Mendung Merah

Lukisan Karya Leonardo Da Vinci

Alien pernah mendarat di New Mexico pada 1947

Potamotrygon Tigrina nama ilmiah Ikan Pari Harimau

Batik Tulis Mega Mendung Ungu

^^^^^^^^^^^^^^^^^ ARTIKEL LAINNYA^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Motif Batik Cirebon II

Motif Batik Cirebon

Megamendung Malaysia

Megamendung Qory

Mega Mendung Yukata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s